Tampilkan postingan dengan label Penatalaksanaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penatalaksanaan. Tampilkan semua postingan
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan Fraktur

  • Usia penderita. Waktu penyembuhan tulang anak-anak jauh lebih cepat daripada orang dewasa. Hal ini terutama disebabkan aktivitas proses osteogenesis pada periosteum dan endosteum serta proses pembentukan tulang pada bayi sangat aktif. Apabila usia bertambah, proses tersebut semakin berkurang.
  • Lokalisasi dan konfigurasi fraktur . Lokalisasi fraktr memegang peranan penting. Penyembuhan fraktur metafisis lebih cepat daripada fraktur diafisis. Di samping itu, konfigurasi fraktur seperti fraktur transversal lebih lambat penyembuhannya dibandingkan dengan fraktur oblik karena kontak yang lebih banyak.
  • Pergeseran awal fraktur. Pada fraktur yang periosteumnya tidak bergeser, penyembuhannya dua kali lebih cepat dibandingkan dengan fraktur yang bergeser.
  • Vaskularisasi pada kedua fragmen. Apabila kedua fragmen mempunyai vaskularisasi yang baik, penyembuhannya tanpa komplikasi. Bila salah satu sisi fraktur memiliki vaskularisasi yang jelek sehingga mengalami kematian, pembentukan union akan terhambat atau mungkin terjadi non-union
  • Reduksi serta imobilisasi. Reposisi fraktur akan memberikan kemungkinan untuk vaskularisasi yang lebih baik dalam bentuk asalnya. Imobilisasi yang sempurna akan mencegah pergerakan dan kerusakan pembuluh darah yang menganggu penyembuhan fraktur.
  • Waktu imobilisasi. Bila imobilisasi tidak dilakukan sesuai waktu penyembuhan sebelum terjadi union , kemungkinan terjadinya non-union sangat besar.
  • Ruangan di antara kedua fragmen serta interposisi oleh jaringan lunak. Adanya interposisi jaringan, baik serupa periosteum maupun otot atau jaringan fibrosa lainnya akan menghambat vaskularisasi kedua ujung fraktur.
  • Faktor adanya infeksi dan keganasan lokal.
  • Cairan sinovial. Cairan sinovial yang terdapat pada persendian merupakan hambatan dalam penyembuhan fraktur.
  • 10. Gerakan aktif dan pasif pada anggota gerak. Gerakan aktif dan pasif pada anggota gerak akan meningkatkan vaskularisasi daerah fraktur. Akan tetapi, gerakan yang dilakukan pada daerah fraktur tanpa imobilisasi yang baik juga akan menganggu vaskularisasi.



Read More..
Imobilisasi dan fiksasi dengan osteosintesis
Imobilisasi secara operasi dengan pin, sekrup, pelat atau alat lain disebut osteosintesis.
Indikasi :
  1. Mobilisasi dini penderita mis. Orang tua dengan patah leher femur
  2. Mobilisasi dini persendian mis. Orang muda dengan patah tulang intraartikuler
  3. Memungkinkan perawatan cedera berat lain mis. Penderita cedera multipel termasuk patah tulang
  4. Memungkinkan perawatan lokal mis. Patah tulang terbuka dengan kerusakan jaringan lunak luas
  5. Kegagalan penanganan nonbedah mis. Reposisi tidak dapat dipertahankan, pseudoartrosis
  6. Patah tulang patologik mis. Fraktur karena metastasis karsinoma
  7. Penderita cedera multipel dengan patah tulang. Bila dilakukan osteosintesis pada patah tulang ektremitasnya, penderita dapat dirawat lebih baik untuk cedera lain seperti trauma otak, toraks, atau perut.
Keuntungan fiksasi kuat ini ialah latihan dan gerakkan dapat mulai segera setelah pembedahan karena osteosintesis disebut stabil latihan. Kerugiannya ialah bahwa umumnya alat osteosintesis harus dikeluarkan setelah setengah sampai dua tahun dan bahwa tempat fraktur tidak kuat setelah dikeluarkan alat tersebut.
Dengan fiksasi eksterna dapat juga dicapai fiksasi kuat sehingga terutama pada patah tulang terbuka dapat dilakukan perawatan luka penderita. Fiksasi eksterna pada tulang terbuka, terdiri dari :
  1. Dua pin proksimal patah tulang
  2. Patah tulang segmen terlepas
  3. Dua pin distal terhadap patah tulang
  4. Alat penghubung

Sumber: Sjamsuhidajat. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC



Read More..
.
  • Tinggalkan Pesan


    ShoutMix chat widget

    Contact

    Pengunjung