Tampilkan postingan dengan label Keperawatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keperawatan. Tampilkan semua postingan
Mengapa "harus terukur"?
Seorang ibu 86 tahun, datang dengan "tenang". Ho ho,..... padahal,.leher tulang paha atasnya (kolum femoris), sisi kiri, patah ---- tah !. Saya dapati pada foto rontgen yang saya minta, "curiga" karena lutut mengsol kearah luar (eksorotasi). Adem-adem, hanya mengeluh "tidak enak badan".
Sementara yang belia , Silvi Anhar (anggota wikimu) menulis"Bu dokter, setiap bangun tidur, pas ditapakin di lantai atau mau berjalan, tumit (telapak kaki) sakit/ngilu banget......" Lha.....
Seorang ibu 86 tahun, datang dengan "tenang". Ho ho,..... padahal,.leher tulang paha atasnya (kolum femoris), sisi kiri, patah ---- tah !. Saya dapati pada foto rontgen yang saya minta, "curiga" karena lutut mengsol kearah luar (eksorotasi). Adem-adem, hanya mengeluh "tidak enak badan".
Sementara yang belia , Silvi Anhar (anggota wikimu) menulis"Bu dokter, setiap bangun tidur, pas ditapakin di lantai atau mau berjalan, tumit (telapak kaki) sakit/ngilu banget......" Lha.....
Keduanya "harus " dipercayai . Rasa nyeri memang subyektif, sangat individual. Margi (1968) memberikan batasan :. "Pain is whatever the experiencing person says it is, existing whenever he says it does" . Susah menerjemahkan dengan pas, intinya stimulus nyeri yang sama, bisa dirasakan berbeda untuk orang berbeda. Bisa kali, disamakan dengan makan cabe.
Sakit atau pada bahasan ini nyeri memang bukan penyakit. Nyeri merupakan bagian dari gejala. Merupakan mekanisme pertahanan tubuh. Nyeri merupakan gejala yang paling banyak mengantar seseorang berkonsultasi ke dokter.
Mengobyektifkan Nyeri
Nyeri diupayakan menjadi terukur dengan skala. Termasuk disini skala numerik nyeri, visual analog scale yang berupa garis lurus , dan skala wajah. Skala dipergunakan untuk mendeskripsikan intensitas / beratnya rasa nyeri.
1.Skala Numerik Nyeri
Skala ini sudah biasa dipergunakan dan telah di validasi . Berat ringannya rasa sakit atau nyeri dibuat menjadi terukur dengan mengobyektifkan pendapat subyektif nyeri. Skala numerik, dari 0 hingga 10.
2.Visual Analog Scale
Terdapat skala sejenis yang merupakan garis lurus , tanpa angka. Bisa bebas mengekspresikan nyeri , ke arah kiri menuju tidak sakit, arah kanan sakit tak tertahankan, dengan tengah kira-kira nyeri yang sedang.
3.Skala Wajah
Skala nyeri enam wajah dengan ekspresi yang berbeda , menampilkan wajah bahagis hingga wajah sedih, juga di gunakan untuk "mengekspresikan" rasa nyeri. Skala ini dapat dipergunakan mulai anak usia 3 (tiga) tahun.
Bagaimana Menggunakannya?
Seorang pasien, pasca tindakan bedah pada tulang belakang, mengeluhkan rasa nyeri saat duduk atau berdiri. Sakit dinyatakan hampir mendekati 10, menggunakan skala numerik seperti pada gambar di atas. Prosedur awal, diberikan obat disertai modalitas fisioterapi TENS. Nyeri memang hilang saat berbaring , tetapi segera timbul saat duduk ataupun berdiri. Berjalan hanya mampu tiga langkah. Program segera dikoreksi, diberikan laser tenaga rendah / Low Level Laser Therapy (LLLT). Nyeri turun 80 % setelah LLLT pertama. Maka pada pasien ini LLLT diberikan. Pada keadaan tersebut di atas skala numerik nyeri, digunakan untuk penilaian hasil dari suatu tindakan.
Pada kehidupan sehari-hari, skala nyeri dapat digunakan untuk menentukan kapan minum obat penghilang rasa sakit. Untuk obat yang dikatakan bila perlu, minumlah obat bila skala nyeri pada skala 2 (dua). Obat memerlukan waktu untuk dapat bekerja, bila nyeri sudah mencapai skala 4 (empat), sudah sulit untuk dapat segera meredakan nyeri.
Ada kalanya suatu obat harus diminum by the clock, tidak menunggu rasa nyeri timbul, namun untuk menentukan dosis yang tepat, tetap diharapkan dipandu dengan seberapa berat (intensitas) rasa sakit ini dirasakan. Para dokter yang berkumpul pada pertengahan April 2008 yang lalu di Hotel Borobudur, membahas berbagai penyakit Rematik, juga sepakat, untuk menggunakan skala nyeri agar bisa membantu memberikan tatalaksana yang tepat.
1.Sipilis
Tiap tahap sipilis dapat diberikan antibiotic. Penissilin G Banzatin adalah pilihan obat untuk sipilis awal atau sipilis laten yang kurang dari 1 tahun. Diberikan dengan injeksi intramuscular (IM) pada sisi tunggal. Terapi yang sama diberikan, direkomendasikan dengan sipilis laten awal. Bagaimanapun mereka dengan tahap laten atau laten akhir sipilis dari waktu yang tidak diketahui harus menerima tiga injeksi dalam interval 1 minggu. Pasien yang alergi pada penisilin biasanya diberikan doksisiklin. Pasien yang ditangani dengan penisilin dipantau selama 30 menit setelah injeksi untuk melihat kemungkinan alergi
Tiap tahap sipilis dapat diberikan antibiotic. Penissilin G Banzatin adalah pilihan obat untuk sipilis awal atau sipilis laten yang kurang dari 1 tahun. Diberikan dengan injeksi intramuscular (IM) pada sisi tunggal. Terapi yang sama diberikan, direkomendasikan dengan sipilis laten awal. Bagaimanapun mereka dengan tahap laten atau laten akhir sipilis dari waktu yang tidak diketahui harus menerima tiga injeksi dalam interval 1 minggu. Pasien yang alergi pada penisilin biasanya diberikan doksisiklin. Pasien yang ditangani dengan penisilin dipantau selama 30 menit setelah injeksi untuk melihat kemungkinan alergi
2.Gonore:
Pengobatan yang dinjurkan CDC untuk infeksi gonokokus adalah seftriakson (sefiksime, siprofloksasin, atau ofaksasin) bersamaan dengan doksisiklin. Doksisiklin ditambahkan pada terapi pertama untuk menangani kecurigaan Chlamydia Trackomatis yang biasanya menyebbkan infeksi pada pasien dengan gonore. Pasien gonore tidak terkomplikasi yang terobati dengan terapi yang diajurkan CDC tidak perlu secara rutin berobat untuk pengobatan. Jika pasien melaporkan episode gejala baru atau tes menunjukan ia mengantung gonore lagi, penjelasan yang paling mungkin adalah reinfeksi daripada kegagalan pengobatan.
3.Infeksi Chlamydia Trackomatis:
Chlamydia harus dicurigai pada kasus gonore, urtritis nongonore, penyakit radang panggul, dan epididimitis. Penanganannya adalah doksisiklin atau azitromisin. Keduanya tidak dianjurkan untuk orang hamil atau alergi atau yang mempunyai komplikasi infeksi chlamidial. Penting disini agar pasien dan pasangan seksualnya diobati
- Perhatikan benda-benda tajam (misalnya, jarum suntik, mata pisau bedah (skapel)) yang berpotensi untuk menularkan penyakit, dan tangani benda-benda tersebut dengan sangat hati-hati untuk mencegah cedera yang tidak disengaja.
- tempatkan spuit dan jarum disposabel, skapel dan benda-benda tajam lainnya yang sudah tidak terpakai dalam wadah antitembus yang diletakkan di dekat tempat benda-benada tadi digunakan. Jarum suntik yang sudah dipakai harus ditutup kembali, dibengkokkan, dipatahkandan dilepas dari spuit sekali pakai.
- kenakan alat pelindung (sarung tangan, gaun bedah, masker dan kacamata pelindung) untuk mencegah agar tidak terkena darah, cairan tubuh yang mengandung darah dan cairan lain yang termasuk dalam aplikasi tindakan penjagaan yang universal. Tipe alat pelindung harus sesuai dengan prosedur yang akan dilakukan dan tipe pajanan yang diantisipasi.
- basuh dengan segera dan seksama kedua belah tangan serta permukaan kulit lainnya yang terkontaminasi darah, cairan tubuh yang mengandung darah dan cairan lain yang yang termasuk dalam aplikasi tindakan penjagaan yang universal.
- sedapat mungkin meminimalkan kebutuhan untuk melakukan resusitasi mulut ke mulut dengan cara menyediakan alat resusitasi yang dilengkapibagian mulut, kantong (bag) resusitasi atau alat ventilasi lainnya sehingga bisa segera digunakan di tempat di mana kebutuhan resusitasi dapat diramalkan.
- pada saat hamil, laksanakan dan pertahankan tindakan penjagaan yang cermat dan benar. Petugas kesehaan yang hamil tidak terbukti berisiko lebih besar untuk terjangkit virus HIV dibandingkan wanita yang tidak hamil. Namun demikian, jika seorang petugas kesehatan yang hamil tertular infeksi HIV, maka bayi yang dikandungnya akan menghadapi risiko yang meningkat untuk terkena infeksi tersebut sebagai akibat penularan perinatal
- di lingkungan rumah, buang dan siramlah darah serta cairan tubuh ke dalam kloset.
- bungkus barang-barang yang terkontaminasi yang tidak dapat dibuang ke dalam kloset dengan menggunakan kantong plastik, dan kemudian masukkan kantong tersebut ke dalam kantong kedua sebelum dibuang di tempat sampah menurut peraturan daerah setempat bagi pembuangan limbah padat.
- bersihkan setiap ceceran darah atau cairan tubuh lainnya dengan sabun dan air atau dengan larutan deterjen. Larutan sodium hipoklorit yang baru (larutan pembersih rumah tangga) dalam konsentrasi pengenceran 1:10 merupakan disinfektan yang efektif. Orang yang membersihkan ceceran tersebut harus menggunakan sarung tangan pelindung.
Etika berkenaan dengan pengkajian kehidupan moral secara sistematis dan dirancang untuk melihat apa yang harus dikerjakan, apa yang harus dipertimbangkan sebelum tindakan tsb dilakukan, dan ini menjadi acuan untuk melihat suatu tindakan benar atau salah secara moral. Terdapat beberapa prinsip etik dalam pelayanan kesehatan dan keperawatan yaitu :
•Autonomy (penentu pilihan)
Perawat yang mengikuti prinsip autonomi menghargai hak klien untuk mengambil keputusan sendiri. Dengan menghargai hak autonomi berarti perawat menyadari keunikan induvidu secara holistik.
•Non Maleficence ( do no harm)
Non Maleficence berarti tugas yang dilakukan perawat tidak menyebabkan bahaya bagi kliennya. Prinsip ini adalah prinsip dasar sebagaian besar kode etik keperawatan. Bahaya dapat berarti dengan sengaja membahayakan, resiko membahayakan, dan bahaya yang tidak disengaja.
•Beneficence (do good)
Beneficence berarti melakukan yang baik. Perawat memiliki kewajiban untuk melakukan dengan baik, yaitu, mengimplemtasikan tindakan yang mengutungkan klien dan keluarga.
•Autonomy (penentu pilihan)
Perawat yang mengikuti prinsip autonomi menghargai hak klien untuk mengambil keputusan sendiri. Dengan menghargai hak autonomi berarti perawat menyadari keunikan induvidu secara holistik.
•Non Maleficence ( do no harm)
Non Maleficence berarti tugas yang dilakukan perawat tidak menyebabkan bahaya bagi kliennya. Prinsip ini adalah prinsip dasar sebagaian besar kode etik keperawatan. Bahaya dapat berarti dengan sengaja membahayakan, resiko membahayakan, dan bahaya yang tidak disengaja.
•Beneficence (do good)
Beneficence berarti melakukan yang baik. Perawat memiliki kewajiban untuk melakukan dengan baik, yaitu, mengimplemtasikan tindakan yang mengutungkan klien dan keluarga.
•Justice (perlakuan adil)
Perawat sering mengambil keputusan dengan menggunakan rasa keadilan.
•Fidelity (setia)
Fidelity berarti setia terhadap kesepakatan dan tanggung jawab yang dimikili oleh seseorang.
•Veracity (kebenaran)
Veracity mengacu pada mengatakan kebenaran. Sebagian besar anak-anak diajarkan untuk selalu berkata jujur, tetapi bagi orang dewasa, pilihannya sering kali kurang jelas.
Diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) bertujuan memberikan makanan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan kalori dan protein agar bertambah guna mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh serta menambah berat badan hingga mencapai normal. Syarat diet ini adalah tinggi kalori, tinggi protein, cukup vitamin dan mineral, serta mudah dicerna.
Diet ini diindikasikan untuk pasien gizi kurang, anemia dan hipertiroid. Juga diberikan pada pasien sebelum dan sesudah operasi tertentu dimana pasien tersebut sudah dapat menerima makanan lengkap;,baru sembuh dari penyakit dengan panas tinggi atau penyakit yang berlangsung lama dan telah dapat menerima makanan lengkap, pasien trauma, luka bakar, atau mengalami perdarahan banyak, serta wanita hamil dan pasca persalinan.
Diet ini diindikasikan untuk pasien gizi kurang, anemia dan hipertiroid. Juga diberikan pada pasien sebelum dan sesudah operasi tertentu dimana pasien tersebut sudah dapat menerima makanan lengkap;,baru sembuh dari penyakit dengan panas tinggi atau penyakit yang berlangsung lama dan telah dapat menerima makanan lengkap, pasien trauma, luka bakar, atau mengalami perdarahan banyak, serta wanita hamil dan pasca persalinan.
Terdapat 2 macam diet TKTP, yaitu TKTP I dan TKTP II. Diet TKTP I mengandung 2600 kalori dan 100 g (2 g/kg BB) protein. Diet TKTP II mengandung 3000 kalori dan 125 g (2 1/2 g/kg BB) protein. Untuk memudahkan, penambahan konsumsi kalori dan protein dilakukan dengan memberikan penambahan lauk dan susu. Sumber protein hewani yang baik diberikan adalah ayam, daging, hati, telur, susu, dan keju, sedangkan sumber protein nabati adalah kacang-kacangan dan hasilnya, seperti tahu, tempe, dan oncom. Makanan yang terlalu manis dan gurih yang dapat mengurangi nafsu makan, seperti gula-gula, dodol, cake, tarcis dan sebagainya, adalah bahan makanan yang dihindarkan.
.